Menuju pribadi sehat
Rabu, 22 Mei 2013
4
komentar
Oleh:
Ina Zainah
Nasution, S.Sos.I
Allport adalah ahli teori kepribadian pertama yang mempelajari orang-orang dewasa yang matang dan normal terlepas dari gangguan neurotis. Ia mengemukakan adanya dikotomi antara masa kanak-kanak dan dewasa. Menurutnya, pribadi yang sehat adalah pribadi yang matang; mampu melihat ke depan penuh optimisme dan harapan. Individu matang memutuskan diri dari konflik-konflik masa kanak-kanaknya dan ketidaksadaran yang ditimbulkannya. Hanya orang-orang neurotis yang menghubungkan dirinya dengan trauma masa lalu, sementara orang sehat berjalan ke depan penuh dengan impian dan tujuan-tujuan.
Karenanya, untuk sampai pada pribadi sehat dan matang, ada 7 tahap pengembangan diri (proprium yang bersifat unik), yang harus berjalan sempurna. Pengembangan diri ini berjalan dari bentuk biologis menuju filsafat-filsafat hidup (tujuan hidup). Tujuh tahap pengembangan itu adalah :
1. Diri jasmani saat lahir
2. Kesadaran akan diri jasmani
3. Identitas diri
4. Harga diri
5. Perluasan diri
6. Diri rasional
7. Perjuangan proprium menetapkan tujuan
Walau Allport menolak adanya trauma masa kanak-kanak, ia mengakui pengalaman masa kanak-kanak mempengaruhi perkembangan proprium seseorang. Karena itu, peran seorang ibu di awal-awal masa pertumbuhan (seperti: memberi cukup perhatian dan kasih sayang) sangat mempengaruhi terbentuknya diri yang matang.
Perkembangan diri yang sehat tidak termotivasi untuk mereduksi tegangan semata, lebih dari itu bahkan untuk meningkatkan tegangan, maka pribadi sehat menurut Allport adalah individu yang memperkaya dirinya dengan pengalaman-pengalaman baru dan menolak rutinitas yang secara psikologis hanya akan mempermiskin jiwa. Pribadi seperti ini terus mencari hal-hal baru, berpindah dari satu motivasi kepada motivasi yang lain; terus berbuat dan bekerja! Kalau mungkin kita gambarkan konsep ini seiring dengan penjelasan QS. 94 :7 :
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ
“Maka
apabila kamu telah selesai dari sesuatu pekerjaan, kerjakanlah hal lain!”
Dalam konsep ini, orang tidak harus bahagia untuk menjadi sehat dan matang; sebab orang-orang sehat juga tersentuh masalah, tantangan dan tegangan. Kebahagiaan, prestasi dan pencapaian bukanlah tujuan, melainkan efek dari upaya kita memperkaya jiwa dan berlepas diri dari rutinitas hidup.
Disamping itu, Allport menetapkan beberapa kriteria pribadi yang matang:
1. Perluasan perasaan diri
Ketika diri berkembang, ia menjangkau banyak orang dan
benda. Mula- mula diri berpusat hanya pada individu kemudian seiring dengan
bertambahnya pengalaman maka diri bertambah luas meliputi nilai-nilai dan
cita-cita abstrak. Dengan kata lain, ketika orang menjadi matang ia
mengembangkan perhatian-perhatian di luar dirinya.
2. Hubungan yang hangat
Orang yang sehat secara psikologis mampu berempati dan
membina keintiman dengan orangtua, anak maupun pasangan.
3. Kualitas emosi yang baik
Individu yang matang selalu dapat mengelola emosi
mereka dengan baik. Bila mereka mengalami tekanan-tekanan, mereka memang merasa
tidak aman tapi mereka tidak merasa terancam sebab mereka yakin tekanan-tekanan
itu tidak selalu menimbulkan petaka. Mereka memahami dan menerima diri, juga
sabar terhadap kekecewaan hidup.
4. Realistis
Memandang dunia secara objektif serta menerima
kenyataan seperti adanya.
5. Dedikasi terhadap pekerjaan
Dedikasi terhadap pekerjaan ini ada kaitannya dengan
tanggungjawab. Sebab pribadi yang sehat punya komitmen,
keterampilan-keterampilan dan penuh dedikasi terhadap pekerjaan.
6. Pemahaman diri
Orang-orang sehat memiliki wawasan akan diri yang
baik.
7. Punya rencana hidup dan tujuan-tujuan
Mereka senantiasa melihat ke depan, didorong oleh
tujuan-tujuan dan rencana-rencana jangka panjang, juga dapat bekerja sampai
selesai.
ULASAN TERAKHIR
Menilai
konsep ini tidaklah harus hitam-putih. Walau sedikit berbeda, sebab Allport
menganggap “karir” hidup adalah upaya memperkaya jiwa dengan meningkatkan
tegangan (terus bekerja dan mencari hal baru), Islam mengajarkan juga “terus
beramal” tapi dalam kerangka “liibtigha/mardhatillah”,
tidak sekedar menghindarkan diri dari rutinitas hidup.
Namun satu hal yang cukup menarik dan membangun
kesadaran kita adalah konsepnya tentang bahagia. Bahagia yang dipinta oleh
semua orang-orang muslim di dunia maupun di akhirat ternyata bukanlah tujuan,
hanya efek dari kerja keras kita menuju Allah. Tujuan seorang muslim yang sadar
hanyalah bertemu dengan Allah Rabbul ‘Izzati.
Referensi
Schultz, Duane, Psikologi Pertumbuhan, Model-model Kepribadian Sehat, Kanisius,
1993.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Menuju pribadi sehat
Ditulis oleh Unknown
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://keluargahanifa.blogspot.com/2013/05/menuju-pribadi-sehat_22.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Unknown
Rating Blog 5 dari 5

4 komentar:
oke nih artikelnya! emang org barat kan berjiwa petualang supaya tdk terjebak pada rutinitas hidup jd doyan banget cari hal baru. Kalau kita muslim ya itu td: terus berbuat "Fa-idza faraghta fanshab! libtigha mardhatillah.
Artikelnya bagus sampai ulasan akhirnya, mau diambil untuk tugas makalah tp sayangnya gak ada footnotenya mbak..
psikologi barat saya sedikit ragu, kata mereka sehat, menurut timbangan kita belum tentu.
Bagi saya ILMU (baik yg datang dari Barat atau Timur)bersifat netral tergantung siapa yang memegangnya. Maka dalam ulasan akhir sedikit saya bandingkan dgn konsep Islam agar kita tidak terjebak dalam rutinitas hidup namun tidak pula terlepas dari nilai agama. Syukran.
Posting Komentar