Pernikahan beriman versus pernikahan seiman
Rabu, 15 Mei 2013
0
komentar
Oleh: Ina Zainah Nasution, S.Sos.I
Keluarga
Santi merasa lega karena berhasil memisahkan Santi dari pacar Nasraninya.
Pernikahan beda agama jelas tidak dibenarkan sebab akidah dan keyakinan yang
berbeda tidak mungkin dapat membawa insan merasakan kebahagiaan hakiki secara
bersama-sama. Seiring waktu, Santi
akhirnya bertemu dengan jodoh yang seiman dan kehidupan terus bergulir.
keluarga kecil ini sekarang telah memiliki dua orang putri yang cantik dan
lucu. Namun kebiasaan Baron sang suami sejak awal pernikahan mereka kerap
membuat Santi ingin lari dari kehidupan rumah tangganya. Baron lelaki yang
ringan tangan dan tinjunya selalu singgah di wajah dan tubuh si istri.
Hiruk-pikuk kegaduhan selalu terdengar dari rumah mereka ditimpali suara Santi
yang meninggi dan tak mau kalah.
Ilustrasi di atas hanya sepenggal kisah
sepasang anak manusia melakoni kehidupan rumah tangga mereka. Mengarungi
bahtera rumah tangga dalam kesamaan iman adalah hal penting namun yang lebih
penting lagi adalah menjalaninya dengan penghayatan iman. Jangankan menyuruh sang istri salat, suami
sendiri kerap meninggalkan salat. Jangankan mendidik dan mengajarkan anak etika
dan doa sehari-hari, kita sebagai orang tuapun jarang sekali berdoa atau
mungkin lupa menerapkannya dalam kehidupan kita. Putra-putri kita tidak mungkin
kita dorong untuk mencintai Al-qur`an bila dari lidah kita sendiri tidak pernah
dilantunkan ayat-ayat penyejuk jiwa tersebut.
Kita
mungkin lebih beruntung dari Santi dalam hal bogem mentah. Pasangan kita bisa
saja orang yang tidak suka main tangan tapi mereka sangat mungkin pribadi yang
liberal dan sekuler! Nuansa agama jauh dari kehidupan mereka atau bahkan agama hanya
dianggap sebagai pemanis kehidupan. Agama bagi mereka seperti ornamen yang dipakai pada saat dan
momen-momen tertentu; saat kemalangan, hari raya atau menyambut kelahiran. Mereka
mempersilahkan kita salat, pergi mengaji selagi tidak melibatkan apalagi sampai
mengajak melaksanakannya bersama. “Agama itu urusan masing-masing sama yang di
atas” begitu kerap mereka berujar. Bila dihadapkan dengan persoalan hidup,
mereka mencari solusi paling gampang “seenak udelnya” berdasarkan emosi,
pendapat atau kebiasaan umum yang lagi trend dan berlaku, melihat tetangga,
hasil survei, kata si anu atau malah melihat ramalan bintang, pergi ke
paranormal dan lain sebagainya. Melihat rumah tangga Santi, kitapun patut
bertanya, apakah kita sudah menjalani pernikahan yang beriman atau
hanya sekedar pernikahan yang seiman?
Semoga Allah membimbing kita ke dalam kehidupan berkeluarga yang merasakan
kemanisan iman bersama-sama, amin Allahumma amin.^^^
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Pernikahan beriman versus pernikahan seiman
Ditulis oleh Unknown
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://keluargahanifa.blogspot.com/2013/05/pernikahan-beriman-versus-pernikahan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Unknown
Rating Blog 5 dari 5

0 komentar:
Posting Komentar