Assalamualaikum,,,Selamat Datang di Keluarga Hanifa
Tampilkan postingan dengan label Buletin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buletin. Tampilkan semua postingan

Kejaiban Silaturahim

Posted by Unknown Rabu, 21 Agustus 2013 0 komentar
Oleh:
Hasrat Efendi Samosir,MA


“Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silahturahim.” (HR. Imam Bazar, Imam Hakim)


Makna Silahturahim
                Istilah silaturahim di tengah-tengah masyarakat kita sering diartikan sebagai kegiatan kunjung-mengunjungi dan saling bertegur sapa. Namun, sesungguhnya bukan itu saja makna silaturahim. Abu Thayyib mengartikan silaturahim sebagai ungkapan tentang berbuat baik kepada kerabat, orang yang memiliki hubungan nasab dan perkawinan; saling berbelas kasihan dan bersikap lembut kepada mereka, mengatur dan memelihara kondisi mereka, meski mereka jauh atau berbuat buruk. Memutus silaturahim berlawanan dengan semua itu.
Ibn Abi Hamzah berkata, "Silaturahim bisa dilakukan dengan harta, menolong untuk memenuhi keperluan, menghilangkan kemudaratan, muka berseri-seri, dan doa."
 
Tentang Menjaga dan Menghubungkan Tali Silahturahim
Rasulullah SAW berpesan kepada umatnya untuk menjaga silaturahim. Tentang siapa yang termasuk orang yang menyambung silaturahim, Rasul saw. pernah bersabda:

 «لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِىءِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِيْ إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا»

“Orang yang menghubungkan silaturahim bukanlah orang yang membalas hubungan baik. Akan tetapi, orang yang menghubungkan silaturahim adalah orang yang ketika kekerabatannya diputus, ia menghubungkannya”. (HR al-Bukhari).



Menyambung atau menghubungkan silaturahim adalah jika hubungan kerabat diputus, lalu dihubungkan kembali. Orang yang melakukannya berarti telah menghubungkan silaturahim. Adapun jika kerabat seseorang menghubunginya, lalu ia menghubungi mereka, hal itu adalah balas membalas; termasuk aktivitas saling menjaga silaturahim, bukan menyambung silaturahmi.
 


Keajaiban Silahturahim
  Ada banyak kelebihan atau manfaat yang akan diperoleh bagi orang yang senantiasa menjaga dan menghubungkan tali silahturahim, antara lain:

1). Memakmurkan dan melindungi suatu kaum. 
  Allah akan memakmurkan dan melindungi suatu kaum selama kaum tersebut melanggengkan hubungan silahturahim diantara mereka. Silahturahim di dalam al-Qur`an tersirat dalam pengertian Hablum min annas (hubungan kekerabatan antara sesama manusia). 
    Firman-Nya dalam Q, S. Ali Imran:112;
ضُرِبَتْ    عَلَيْهِمُ    الذِّلَّةُ    أَيْنَ    مَا    ثُقِفُوٓا۟    إِلَّا    بِحَبْلٍ    مِّنَ    اللّٰـهِ    وَحَبْلٍ    مِّنَ    النَّاسِ    وَبَآءُو    بِغَضَبٍ    مِّنَ    اللّٰـهِ    وَضُرِبَتْ    عَلَيْهِمُ    الْمَسْكَنَةُ    ۚ    ذٰلِكَ    بِأَنَّهُمْ    كَانُوا۟    يَكْفُرُونَ    بِـَٔايٰتِ    اللّٰـهِ    وَيَقْتُلُونَ    الْأَنۢبِيَآءَ    بِغَيْرِ    حَقٍّ    ۚ    ذٰلِكَ    بِمَا    عَصَوا۟    وَّكَانُوا۟    يَعْتَدُونَ


Artinya : Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

2). Memberi pengaruh kebaikan. 
      Sabda Rasul: “Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? ‘Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan, adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahim, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah balasan (siksaaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan” (HR Ibnu Majah).
 

3). Silahturahim akan mengantarkan pelakunya masuk surga. 
     Oleh karena itu, menyambung dan menjaga silahturahim hukumnya wajib, dan memutuskannya adalah haram. 


Rasul saw. bersabda:
«لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ»
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan kekerabatan (ar-rahim)”. (HR al-Bukhari dan Muslim).
 


4). Mengurangi Derita, Melapangkan Rezeki
      Silaturahmi itu adalah aktivitas hati dan fisik, maka rezeki bisa datang dengan berbagai cara. Pertemuan dengan sudara bisa mendatangkan peluang, baik peluang kerja maupun peluang bisnis. Namun kita jangan membatasinya hanya itu saja, sebab Allah memiliki wewenang memberikan rezeki kepada hamba-Nya dari arah yang tidak disangka-sangka. Kapan dan seberapa besarnya, itu adalah hak Allah yang menentukan. Allah Mahatahu, seberapa banyak dan kapan waktu yang terbaik bagi kita. Bersabarlah, rezeki itu akan datang, tetaplah bersilaturahim karena Allah tidak mungkin menyalahi janji-Nya.
Banyak lagi hal-hal positif dan berdampak kebaikan dunia dan akhirat yang dapat kita raih dengan silahturahim, namun sayang tidaklah dapat kita ungkap keseluruhannya dalam kolom yang ringkas ini. Semoga bermanfaat!

وَلَا    يَأْتَلِ    أُو۟لُوا۟    الْفَضْلِ    مِنكُمْ    وَالسَّعَةِ    أَن    يُؤْتُوٓا۟    أُو۟لِى    الْقُرْبَىٰ    وَالْمَسٰكِينَ    وَالْمُهٰجِرِينَ    فِى    سَبِيلِ    اللّٰـهِ    ۖ    وَلْيَعْفُوا۟    وَلْيَصْفَحُوٓا۟    ۗ    أَلَا    تُحِبُّونَ    أَن    يَغْفِرَ    اللّٰـهُ    لَكُمْ    ۗ    وَاللّٰـهُ    غَفُورٌ    رَّحِيمٌ  


Artinya : Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,  (Q.S An Nuur : 22) 

 

 

Baca Selengkapnya ....

Menjawab Tantangan Kehidupan

Posted by Unknown Minggu, 21 Juli 2013 0 komentar
Oleh:

Drs. Burhanuddin, M.Ag


“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginyadan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulahyang terbaik untuknya”. (Shahih Muslim).



Hidup adalah tantangan

 Hidup adalah tantangan dan setiap problematikanya menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab secara elegan. Allah berfirman dalam Q,S.2:155;
               
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(QS: Al-Baqarah Ayat: 155) 
    

  
Menjawab Tantangan dengan Iman 

Iman merupakan landasan bagi seorang muslim untuk bergerak dan berkegiatan. Iman seperti air bagi telaga atau laksana ruh bagi jasad badani. Maka respon seorang mukmin ketika menghadapi masalah pastilah berbeda dengan yang tidak beriman. Hadis yang dikemukakan di awal jelas menggambarkan sikap orang beriman yang mengagumkan  dalam segala kondisi. 

Ada banyak kisah yang menggambarkan respon terpuji seorang mukmin tatkala dihadapkan padanya suatu masalah dan  satu di antaranya adalah kisah masyhur tentang seorang pedagang yang jujur. 

Ia berpesan kepada pramuniaganya untuk menyatakan cacat dari barang yang mereka jual. 

Namun ternyata pelayannya tersebut lupa saat seorang Yahudi membeli barang tersebut. 

Maka dengan tergopoh-gopoh beliau menyusul Yahudi itu untuk membatalkan jual-beli. Sang Yahudi menjadi terperangah akan kejujuran sang saudagar muslim dan akhirnya memeluk Islam. 

Iman bahkan menjadi tolak ukur seseorang dapat keluar dari masalahnya dengan sukses. Firman Allah dalam S. at-Thalaq:2-3


“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.


 Oleh karena itu, iman yang tumbuh mengakar dalam sanubari dan mewarnai setiap langkah serta helaan napas seorang muslim, itulah iman yang benar yang mampu menghantarkan seseorang menjadi juara-juara kehidupan.


Kiat Sukses Orang Beriman

Q.S. al-Mukminun:1-6:
                
                 

                                                                                                                     
                                                                        
                                                                    


                                              Artinya:

1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,
3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada   berguna,
4. dan orang-orang yang menunaikan zakat,
5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. . Maksudnya: budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. Dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan biasanya dibagi-bagikan kepada kaum Muslimin yang ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan ini bukanlah suatu yang diwajibkan
            
Masalah yang disodorkan ke hadapan kita dapat berupa kekhawatiran (stress) akan suatu hal yang belum pasti, kemiskinan, kematian, penyakit, dan lain sebagainya.  Demikianpun sebaliknya; kelebihan harta, banyaknya keturunan, kehidupan dan kesehatanyang baik dapat menjadi ujian bagi seseorang. Bahkan seluruh bidang kehidupan manusia adalah tantangan untuk menguji manusia siapa yang terbaik amalnya.
 
Berikut adalah ciri-ciri orang beriman yang sukses dalam kehidupannya:


1. Khusu` dalam shalat. Hal ini ditandai dengan adanya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan baik di dalam dan di luar shalat.


2. Terjaga lisannya dari pembicaraan yang sia-sia. Maka dalam menghadapi masalah, orang beriman senantiasa bersabar tanpa mengeluh.

3. Bersyukur dan salah satu perwujudan rasa syukur tersebut adalah dengan amal nyata yakni mengeluarkan infak dan zakat.

4. Menjaga diri dari fitnah syahwat yang menjerumuskan.

Demikianlah tulisan ringkas ini, semoga bermanfaat dan menambah keyakinan bahwa iman yang sepenggal ini mampu menyelamatkan kita keluar dari masalah-masalah kehidupan dunia dan akhirat.^^^
 


 

Baca Selengkapnya ....

Membangun Generasi Tangguh Melalui Rumah Tangga Dakwah

Posted by Unknown Sabtu, 22 Juni 2013 0 komentar

Oleh:

                                                      Drs. M. Hisam Dalimunte, SH



“Rumah tangga Dakwah adalah Rumah Tangga yang menjalankan fungsi Amar Ma`ruf dan Nahi Munkar; yakni menyeru  untuk berbuat yang baik dan mencegah dari perbuatan yang keji lagi tercela”.


Setiap kapal yang berlayar haruslah memiliki haluan (arah). Demikian pula dalam kehidupan rumah tangga  harus memiliki haluan dan orientasi yang pasti dalam menjalani kehidupan. Maka bagi rumah tangga muslim haluan dan orientasi itu adalah  gerakan dakwah.

Sebagian kecil masyarakat mungkin masih ada yang merasa alergi dengan kata “dakwah”.  Hal ini disebabkan anggapan bahwa dakwah hanya dapat dilakukan oleh para ustadz (orang alim) melalui metode ceramah di atas mimbar. Padahal sebenarnya setiap pribadi muslim memiliki tugas dakwah; mengajak berbuat baik, mencegah perbuatan munkar. Seorang ayah tidak boleh berlaku apatis dengan membiarkan anaknya misalnya tidak shalat, tidak puasa atau berkelahi dengan teman sekolahnya. Seorang ibu tidak boleh cuek dengan kondisi anak gadisnya yang kerap keluar malam, tidak berhijab, berkata kotor dan lain sebagainya. 

Seorang saudara tidak akan senang bila saudaranya melalaikan waktu, bersikap malas atau mengambil barang milik orang lain. Maka rumah tangga dakwah adalah rumah tangga yang menjalankan fungsi Amar Ma`ruf dan Nahi Munkar; yakni menyeru  untuk berbuat yang baik dan mencegah dari perbuatan yang keji lagi tercela.

Dalam konsep rumah tangga ini setiap anggota keluarga memiliki tugas  dan tanggungjawab untuk saling mengingatkan kebaikan dan menjadi alarm bagi yang lain dalam hal keburukan. Ini artinya rumah tangga dakwah adalah rumah tangga yang peduli terhadap orang lain dan lingkungan sekitar. Rumah tangga dakwah  mengikis karakter  individualis dengan  berlaku tidak apatis terhadap kejadian di luar dirinya. Maka setiap pribadi dalam rumah tangga ini (dari mulai orang tua sampai anak) bersikap caring yakni peduli dan mau menjaga kebaikan dan menyingkirkan keburukan melalui upaya saling memberi nasehat  sebab memang agama ini adalah nasehat.

Membangun generasi masa depan yang tangguh adalah tugas bahkan cita-cita dan keinginan setiap pasangan. Sebab semua orang tua menginginkan memiliki keturunan yang baik, cerdas, soleh, terpuji, dan lain sebagainya. Dalam konsep rumah tangga dakwah, membangun generasi  berarti orang tua harus:
·  Peduli untuk mengajarkan anak kebaikan secara umum dan nilai-nilai Islam secara khusus.
·   Peduli untuk mengajarkan  anak untuk  tidak bersikap individualis dengan mengajarkan kepedulian terhadap agamanya, lingkungan di luar dirinya dan orang lain dan mengambil tanggungjawab bagi terwujudnya  hal-hal ideal dalam masyarakat.

Secara rinci, hal-hal yang harus dilakukan orang tua dalam upaya membangun generasi Islam yang tangguh adalah:
  1. Mendidikkan Keimanan kepada Allah hingga taraf keyakinan bahwa Allah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka. Suksesnya pendidikan iman ini akan terlihat pada ibadah dan doa anak.
  2. Memacu semangat anak untuk menuntut ilmu dan membekali mereka dengan keterampilan.
  3. Mengarahkan anak untuk gemar mengikuti petunjuk dan peraturan. Ini memungkinkan mereka mencintai  disiplin dan hidup secara  teratur.
  4. Mendidik anak untuk berbuat kebaikan secara istiqamah (terus menerus dan berkelanjutan).
Mengajarkan anak untuk berpegang teguh pada agama.

Awali dari Diri Sendiri
Imam Ali kw. Ketika ditanya tentang makna surat at-Tahrim ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Maka Imam Ali kw. menjawab: “`allimu anfusakum wa ahlikum alkhair wa addibuhum” (ajarkan dirimu dan keluargamu kebaikan dan didikkan kepada mereka adab kesopanan/akhlak). Dalam hal ini, orang tua sebagai tokoh sentral harus lebih dulu mempelajari dan mempraktekkan langsung nilai-nilai kebaikan Islam agar dapat dijadikan model bagi anak.


Bahaya Meninggalkan Rumah Tangga Dakwah  

Dunia modern yang serba cepat telah mengantarkan kita pada sikap hidup individualis-materialistis; dimana orang berbuat dilandasi pemikiran untung-rugi. Maka selagi perbuatan tersebut tidak merugikan bagi dirinya atau sebaliknya (tidak ada untungnya) maka ia tidak akan peduli. Maka sering kita dengar ungkapan-ungkapan misalnya: “Biar suka hati mau jadi apa mereka, gak ada untungnya buat kita!”, atau  “Bukan anakku kok!” (jadi buat apa repot memberi tahu yang benar atau yang baik), atau bahkan pada anaknya sendiri dia bisa tidak peduli; “alaah, nanti sudah besar dia juga tau sendiri!” dan lain-lain.

Meninggalkan dakwah amar ma`ruf nahi munkar dalam kehidupan berkeluarga akan memberikan dampak hilangnya berkah dan kasih sayang dalam keluarga tersebut. Allah mengangkat keberkahan dari keluarga sehingga mereka tidak merasakan nikmatnya beribadah, bersilahturahmi dan berdo`a. sedang Allah mengangkat kasih sayang dalam keluarga sehingga kehidupan mereka serasa gersang dan terciptalah anak-anak yang cerdas secara kognisi namun mereka tidak bermoral sama sekali, na`udzubillah min dzalik…)

Baca Selengkapnya ....

Model-model pasangan dan upaya menuju rumah tangga sakinah

Posted by Unknown Rabu, 22 Mei 2013 2 komentar

Oleh:
Drs. Ali Nurdin Guci, Mag

                 Ada milyaran pasangan yang hadir di permukaan bumi ini sejak Nabi Adam as. sampai pada saat kita sekarang ini. Namun di dalam al-Qur`an dijelaskan model-model pasangan ke dalam tiga klasifikasi besar yang dapat menjadi i`tibar bagi setiap pasangan suami istri. Ketiga model pasangan tersebut adalah: 

1.Suami Salih – Istri Durhaka
Ini adalah model dari rumah tangga Nabi Nuh dan Nabi Luth. Keduanya adalah dua orang salih yang telah dipilih oleh Allah sebagai Nabi-nabi-Nya. Namun istri-istri mereka adalah wanita-wanita pendurhaka yang menentang Allah dan Nabi utusan-Nya. Rumah tangga mereka tidak bahagia.

2.Suami Durhaka – Istri Salihah
Ini adalah model rumah tangga Fir`aun dan Siti Aisyah. Fir`aun seorang penentang risalah yang dibawa oleh Nabi Musa as. pada masa itu, bahkan karena kesombongannya mengakui dirinya sebagai Tuhan yang layak disembah, sementara istrinya seorang perempuan salih yang berpegang kepada agama yang hanif.

3.Suami Salih – Istri Salihah
Ini merupakan model rumah tangga Nabi Ibrahim as. dan Nabi Muhammad saw. Dalam rumah tangga model ini,
suami dan istri berjalan seiring dalam pagar keimanan dan keta`atan yang sejajar. Keduanya berkomitmen untuk membangun kehidupan bahagia dan sejahtera di dunia maupun di akhirat. Model rumah tangga inilah yang menjadi pola bagi pasangan yang mendambakan kehidupan yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Upaya untuk  menggapai rumah tangga sakinah harus dimulai dengan masing-masing pihak baik suami maupun istri melaksanakan peran dan fungsi mereka dengan komitmen yang tinggi berlandaskan iman.

NO.
PERAN DAN FUNGSI SUAMI
PERAN DAN FUNGSI ISTRI
1.
Pemimpin dan Pelindung (Q.S. 4:34)
Pendamping setia suami (Q.S.33:33)
2.
Pendidik dan Pembina (Q.S. 20:132) dan (Q.S.66:6)
Pemelihara anak-anak (Q.S. 2:233) dan (Q.S.66:6)
3.
Pemberi Nafkah (Q.S.2:233) dan (Q.S.65:7)
Penyejuk dalam Keluarga (Q.S. 25:74-75)
  
Peran dan Fungsi suami
1. Pemimpin dan Pelindung     
     (Q.S. An Nisa 34)


Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

2. Pendidik dan Pembina       
      -(Q.S. Taha 132)

  Artinya: Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. 


       -(Q.S. At Tahrim : 6)


   

 Artinya:Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

3. Pemberi Nafkah    
      (Q.S Al Baqarah : 233)


Artinya :Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

      -(Q.S At Talaq:7)

Artinya: Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.


Peran dan Fungsi Istri
1. Pendamping setia suami 
    (Q.S Al Ahzab 33)
 
Artinya :dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

2. Pemelihara Anak-anak
   (Q.S Al Baqarah 233)


Artinya :Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

 (Q.S. At Tahrim : 6)



 Artinya :Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

3. Penyejuk dalam keluarga 
       (Q.S Al Furqan 74)

 
Artinya:Dan orang-orang yang berkata: 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.



      (Q.S Al Furqan 75)

Artinya: Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,

Bila masing-masing pihak memahami peran dan fungsi di atas, kemudian melaksanakannya dengan kegigihan dan kesabaran sebagai satu sunnatullah untuk menciptakan hubungan yang seimbang dan harmonis maka mudah-mudahan Allah menurunkan sakinah-Nya ke dalam kehidupan kita berkeluarga, amin.*
 

Baca Selengkapnya ....