Maafku ku buka, mulutku kukunci
Kamis, 22 Agustus 2013
0
komentar
Pertanyaan:
Saya dan keluarga pernah
dizalimi, sakit sekali rasanya. Saya katakan kepada istri: “saya sudah maafkan
dia, tapi belum bisa beramah tamah dengannya”. Bagaimana menurut ustadz, apakah
saya pendendam?
Jawaban:
Memang ibarat luka tergores, pasti
menimbulkan bekas. Begitu pula hati mungkin perlu waktu untuk merasa damai dan
benar-benar pulih dari rasa sakitnya. Tapi ingatlah firman Allah dalam
al-Qur`an, Surat an-Nur: 22
“dan hendaklah mereka mema'afkan
dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” Bukankah kita
ingin mendapatkan ampunan Allah? Menurut Riwayat, sebab turunnya Ayat ini berhubungan dengan sumpah
Abu Bakar r.a. bahwa dia tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain
yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri 'Aisyah. Maka
turunlah ayat ini melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh
mema'afkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas
perbuatan mereka itu.
Betapa banyak kisah-kisah berlapang
dada yang patut kita jadikan tauladan dari diri Nabi saw. Saat ia berdakwah ke negeri Taif dan dilempari
dengan batu misalnya. Atau saat beliau
harus menerima air ludah seorang Yahudi setiap beliau lewat di suatu tempat.
Semua prilaku tidak menyenangkan
tersebut beliau jawab dengan akhlak yang tinggi: MEMAAFKAN! Subhanallah..,semoga
Allah memberikan kita kelapangan hati untuk memaafkan saudara kita dan berlaku
ihsan kepadanya.**
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Maafku ku buka, mulutku kukunci
Ditulis oleh Unknown
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://keluargahanifa.blogspot.com/2013/08/maafku-ku-buka-mulutku-kukunci.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Unknown
Rating Blog 5 dari 5
0 komentar:
Posting Komentar