Blogger Widget
Assalamualaikum,,,Selamat Datang di Keluarga Hanifa

Membangun Generasi Tangguh Melalui Rumah Tangga Dakwah

Posted by Unknown Sabtu, 22 Juni 2013 0 komentar
Bagikan Artikel Ini :

Oleh:

                                                      Drs. M. Hisam Dalimunte, SH



“Rumah tangga Dakwah adalah Rumah Tangga yang menjalankan fungsi Amar Ma`ruf dan Nahi Munkar; yakni menyeru  untuk berbuat yang baik dan mencegah dari perbuatan yang keji lagi tercela”.


Setiap kapal yang berlayar haruslah memiliki haluan (arah). Demikian pula dalam kehidupan rumah tangga  harus memiliki haluan dan orientasi yang pasti dalam menjalani kehidupan. Maka bagi rumah tangga muslim haluan dan orientasi itu adalah  gerakan dakwah.

Sebagian kecil masyarakat mungkin masih ada yang merasa alergi dengan kata “dakwah”.  Hal ini disebabkan anggapan bahwa dakwah hanya dapat dilakukan oleh para ustadz (orang alim) melalui metode ceramah di atas mimbar. Padahal sebenarnya setiap pribadi muslim memiliki tugas dakwah; mengajak berbuat baik, mencegah perbuatan munkar. Seorang ayah tidak boleh berlaku apatis dengan membiarkan anaknya misalnya tidak shalat, tidak puasa atau berkelahi dengan teman sekolahnya. Seorang ibu tidak boleh cuek dengan kondisi anak gadisnya yang kerap keluar malam, tidak berhijab, berkata kotor dan lain sebagainya. 

Seorang saudara tidak akan senang bila saudaranya melalaikan waktu, bersikap malas atau mengambil barang milik orang lain. Maka rumah tangga dakwah adalah rumah tangga yang menjalankan fungsi Amar Ma`ruf dan Nahi Munkar; yakni menyeru  untuk berbuat yang baik dan mencegah dari perbuatan yang keji lagi tercela.

Dalam konsep rumah tangga ini setiap anggota keluarga memiliki tugas  dan tanggungjawab untuk saling mengingatkan kebaikan dan menjadi alarm bagi yang lain dalam hal keburukan. Ini artinya rumah tangga dakwah adalah rumah tangga yang peduli terhadap orang lain dan lingkungan sekitar. Rumah tangga dakwah  mengikis karakter  individualis dengan  berlaku tidak apatis terhadap kejadian di luar dirinya. Maka setiap pribadi dalam rumah tangga ini (dari mulai orang tua sampai anak) bersikap caring yakni peduli dan mau menjaga kebaikan dan menyingkirkan keburukan melalui upaya saling memberi nasehat  sebab memang agama ini adalah nasehat.

Membangun generasi masa depan yang tangguh adalah tugas bahkan cita-cita dan keinginan setiap pasangan. Sebab semua orang tua menginginkan memiliki keturunan yang baik, cerdas, soleh, terpuji, dan lain sebagainya. Dalam konsep rumah tangga dakwah, membangun generasi  berarti orang tua harus:
·  Peduli untuk mengajarkan anak kebaikan secara umum dan nilai-nilai Islam secara khusus.
·   Peduli untuk mengajarkan  anak untuk  tidak bersikap individualis dengan mengajarkan kepedulian terhadap agamanya, lingkungan di luar dirinya dan orang lain dan mengambil tanggungjawab bagi terwujudnya  hal-hal ideal dalam masyarakat.

Secara rinci, hal-hal yang harus dilakukan orang tua dalam upaya membangun generasi Islam yang tangguh adalah:
  1. Mendidikkan Keimanan kepada Allah hingga taraf keyakinan bahwa Allah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka. Suksesnya pendidikan iman ini akan terlihat pada ibadah dan doa anak.
  2. Memacu semangat anak untuk menuntut ilmu dan membekali mereka dengan keterampilan.
  3. Mengarahkan anak untuk gemar mengikuti petunjuk dan peraturan. Ini memungkinkan mereka mencintai  disiplin dan hidup secara  teratur.
  4. Mendidik anak untuk berbuat kebaikan secara istiqamah (terus menerus dan berkelanjutan).
Mengajarkan anak untuk berpegang teguh pada agama.

Awali dari Diri Sendiri
Imam Ali kw. Ketika ditanya tentang makna surat at-Tahrim ayat 6:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Maka Imam Ali kw. menjawab: “`allimu anfusakum wa ahlikum alkhair wa addibuhum” (ajarkan dirimu dan keluargamu kebaikan dan didikkan kepada mereka adab kesopanan/akhlak). Dalam hal ini, orang tua sebagai tokoh sentral harus lebih dulu mempelajari dan mempraktekkan langsung nilai-nilai kebaikan Islam agar dapat dijadikan model bagi anak.


Bahaya Meninggalkan Rumah Tangga Dakwah  

Dunia modern yang serba cepat telah mengantarkan kita pada sikap hidup individualis-materialistis; dimana orang berbuat dilandasi pemikiran untung-rugi. Maka selagi perbuatan tersebut tidak merugikan bagi dirinya atau sebaliknya (tidak ada untungnya) maka ia tidak akan peduli. Maka sering kita dengar ungkapan-ungkapan misalnya: “Biar suka hati mau jadi apa mereka, gak ada untungnya buat kita!”, atau  “Bukan anakku kok!” (jadi buat apa repot memberi tahu yang benar atau yang baik), atau bahkan pada anaknya sendiri dia bisa tidak peduli; “alaah, nanti sudah besar dia juga tau sendiri!” dan lain-lain.

Meninggalkan dakwah amar ma`ruf nahi munkar dalam kehidupan berkeluarga akan memberikan dampak hilangnya berkah dan kasih sayang dalam keluarga tersebut. Allah mengangkat keberkahan dari keluarga sehingga mereka tidak merasakan nikmatnya beribadah, bersilahturahmi dan berdo`a. sedang Allah mengangkat kasih sayang dalam keluarga sehingga kehidupan mereka serasa gersang dan terciptalah anak-anak yang cerdas secara kognisi namun mereka tidak bermoral sama sekali, na`udzubillah min dzalik…)


TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Membangun Generasi Tangguh Melalui Rumah Tangga Dakwah
Ditulis oleh Unknown
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://keluargahanifa.blogspot.com/2013/06/membangun.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar